ClickDownload or Read Online button to get Pemetaan Komunitas Sastra Di Jakarta Bogor Tangerang Dan Bekasi book now. This site is like a library, Use search box in the widget to get ebook that you want. If the content Pemetaan Komunitas Sastra Di Jakarta Bogor Tangerang Dan Bekasi not Found or Blank , you must refresh this page manually.
ASmenyatakan virus cacar monyet sebagai keadaan darurat. Saturday, 8 Muharram 1444 / 06 August 2022
Bisniscom, JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meresmikan Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Area Perpustakaan Gedung Panjang Kawasan Taman Ismail Marzuki Cikini, Jakarta Pusat, pada Kamis (7/6/2022).. Anies berharap perpustakaan tersebut tidak sekadar menjadi tempat disimpannya buku-buku, tetapi juga untuk menjadi wadah untuk membangun komunitas.
Karena itu di tahun 2022 ini, Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra melalui Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional (KKLP) Literasi, menggelar kegiatan pemberdayaan komunitas literasi bagi 100 komunitas literasi di wilayah DKI Jakarta," ujar Kordinator Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional (KKLP) Literasi, Badan Pengembangan dan
Dịch Vụ Hỗ Trợ Vay Tiền Nhanh 1s. JAKARTA Waspada Karya sastra di tengah komunitas, ternyata mampu berkontribusi menciptakan kesejahteraan bagi komunitas sastra maupun anggota secara personal. Artinya, secara perekonomian nasional, karya sastra mampu menyumbang, paling tidak, penciptaan lapangan kerja di bidang seni dan sastra melalui industri kreatif. Hal itu menjadi salah satu bahan pengamatan menarik yang dilakukan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, di tahun ini. Penelitian dilakukan di Kota Surakarta dan Kabupaten Semarang dengan fokus pada keberadaan komunitas sastra Indonesia dalam rangka mempertahankan kelangsungannya dengan mengarahkan perubahan ke bidang industri kreatif. Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah, Ganjar, Senin 25/10 mengatakan, penelitian ini mempunyai tujuan mengungkap keberadaan komunitas sastra di Jawa Tengah yang mengarahkan kerja sastra ke industri kreatif sebagai alternatif penciptaan nilai ekonomi karya sastra sehingga mampu menghidupi komunitas bahkan personalnya. Di samping itu, strategi apa yang digunakan komunitas sastra dalam industri kreatif dapat diketahui. “Selain mengungkap pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebut, dapat juga terungkap persoalan-persoalan yang lainnya, seperti model pendampingan dan sebagainya,” imbuh Ganjar. Kegiatan ini berupa penelitian lapangan. Data yang diambil merupakan komunitas sastra dan industri kreatif yang terdapat dua daerah di Kabupatem Semarang dan Kota Surakarta. Tim peneliti mendatangi komunitas-komunitas sastra yang berada di Kota Surakarta yang mengarah ke industri kreatif dan berpotensi ke arah industri kreatif. Tim melakukan wawancara mendalam terhadap komunitas sastra untuk mengetahui arah industri kreatifnya. Dalam wawancara, tim dengan komunitas sastra, tim juga mengamati lingkungan sekitar komuitas sastra berada. Maksud dari mengamati lingkungan ini, tim berharap mendapat juga gambaran nyata komunitas sastra dalam mempertahankan eksistensi komunitas. Bagaimana sarana dan prasarana yang dimiliki komunitas, kekurangan sarana dan prasarana apa selama ini, strategi apa yang digunakan, industri kreatif apa yang dikembangkan, dan sebagainya dapat terekam sepenuhnya sehingga dapat membuka jalan untuk mengetahui strategi apa yang digunakan komunitas dalam menutup kekurangan tersebut. Di samping wawancara dengan komunitas sastra, ada juga opini kepada sastrawan dan instansi terkait untuk mengetahui pandangan tentang komunitas dan industri kreatif. Hasil wawancara dengan pihak lain ini kemudian dikolaborasikan dengan strategi komunitas dalam industri kreatifnya. Pandangan sastrawan dan instansi terkait umumnya, positif, dalam artian komunitas mampu mempertahankan karya mereka dengan masuk ke dalam industri kreatif tanpa kehilangan jati dirinya. “Dan juga, mereka memandang mampu memberi nilai ekonomi pada karya sastra mereka,” imbuh Ganjar. Ada beberapa komunitas di Surakarta dan Kabupaten Semarang yang melakukan terobosan dengan industri kreatif yang mereka tawarkan kepada masayarakat. Dalam penelitian ini, industri kreatif yang dikembangkan komunitas sastra, antara lain bidang penerbitan, seni pertunjukan, dan film. Bidang penerbitan melakukan pengembangan konten dengan mewujudkan dalam bentuk buku, jurnal, majalah, dan sebagainya, seperti yang dilakukan oleh komunitas Pawon di Surakarta. Bidang seni pertunjukkan dengan mengembangkan konten temabng macapat diangkat dalam dunia pertunjukkan, hal ini patut diberi apresiasi mengingat tidak mudah mengangkat nilai-nilai budaya Jawa yang terkandung dalam tembang macapat kemudian dipertunjukkan kepada masyarakat. Dari hanya tembang-tembang Jawa menjadi sebuah pertunjukan drama, dan dipanggungkan ke pelosok desa-desa dengan tata dekorasi teater walau masih tampak sederhana, seperti yang dilakukan Teater Hening Kabupaten Semarang. Bidang film melakukan pengembangan konten dengan mengangkat cerita-cerita rakyat daerah dan melakukan pemutaran film di desa-desa pelosok. Selain menghibur, konten yang diangkat juga memberi edukasi kepada masyarakat. Hal ini dilakukan oleh komunitas sastra kembanggulo. Dari beberapa bidang industri kreatif, ditemukan pola-pola strategi yang dipengaruhi oleh kemajuan kota terkait teknologi, di Surakarta menggunakan teknologi modern yang menghasilkan industri kreatif yang berciri modern penerbitan dan percetakan dan film, di Kabupaten Semarang menggunakan pola tradisional dengan kekuatan tokoh dalam pertunjukkan. Penelusuran komunitas-komunitas sastra yang tim lakukan di masa pandemi Covid-19 menjadi kendala dan tantangan tersendiri yang tim hadapi. Dengan segala keterbatasan waktu dan dana, tim menuju daerah yang notabene daerah pandemi. Tim hanya mampu mengunjungi komunitas sastra yang sudah dikenal saja untuk menjaga kesehatan covid-19 dan keefisienan waktu. Komunitas-komunitas sastra yang lain belum sempat tim kunjungi akibat covid-19. “Penelitian ini idealnya berkelanjutan, apalagi tahun ini bidang kesehatan tidak memungkinkan, tahun depan masih dibutuhkan penelitian lagi. Karena, memang sangat penting bagi pengembanagn komunitas sastra sendiri dan pemerintah dalam menentukan kebijakan terhadap ekonomi kreatif di bidang sastra,” tandas Ganjar. J02
Siaran Pers 20 TAHUN KOMUNITAS SASTRA INDONESIA KSI KEGEMBIRAAN BERORGANISASI & BERKARYA MELALUI KONGRES & SEMINAR SASTRA Seminar Sastra “Kembali ke Literasi Peta & Prospek Penerbitan Komunitas Sastra di Indonesia” Memasuki usia ke-20 tahun, Komunitas Sastra Indonesia KSI akan menggelar Kongres Komunitas Sastra Indonesia III di Kota Tangerang Selatan Tangsel, Banten, selama 8-10 Januari 2016. Selain pemilihan pengurus KSI periode 2016-2019 sebagai agenda utama, kongres juga akan diisi seminar sastra nasional dengan tema “Kembali ke Literasi Peta dan Prospek Penerbitan Komunitas Sastra di Indonesia”. Kongres diharapkan akan dibuka oleh Wali Kota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany. “Kongres dan seminar sastra ini ingin kami jadikan pijakan untuk membangun kegembiraan berorganisasi dan berkarya di dalam komunitas sastra. Dua puluh tahun lalu, KSI merupakan komunitas sastra yang kecil, tapi terasa lapang. Kami melakukan berbagai aktivitas sastra secara gembira dan guyub. Sekarang, KSI menjadi komunitas sastra yang tergolong besar dengan cara pandang dan latar belakang para anggota yang beragam. Kami ingin, keragaman tersebut bukan penghalang untuk membangun kegembiraan berorganisasi dan berkarya,” papar Wowok Hesti Prabowo, Ketua Dewan Pendiri KSI. Karena itu, Wowok melanjutkan, salah satu yang ingin ditekankan KSI ke depan adalah satu hal mendasar bagi komunitas sastra, yakni tradisi literasi yang bermuara pada penerbitan buku. Karena itu, kongres kali ini—dan juga seminar sastra nasional—akan mengusung tajuk “Kembali ke Literasi Peta dan Prospek Penerbitan Komunitas Sastra di Indonesia”. “Ahmadun Yosi Herfanda, Diah Hadaning, Hasan Bisri BFC, dan Nanang Ribut Supriyatin direncanakan menjadi pembicara pada seminar tersebut,” tambah Shobir Poer, Ketua Panitia Pelaksana Kongres KSI III Tahun 2016. Selain itu, masih menurut Wowok, “Untuk melanjutkan berbagai kegiatan dan kerja sama serta menjajaki berbagai peluang baru dan menjawab berbagai tantangan baru sesuai dengan perkembangan dan tuntuan zaman, KSI akan bermusyawarah untuk memilih kepengurusan baru serta merumuskan langkah-langkah atau program-program baru yang lebih strategis dan efektif untuk meningkatkan kontribusi KSI terhadap perkembangan sastra di Indonesia,” Shobir Poer menjelaskan, selain kongres dan seminar sastra, kegiatan ini juga akan dimeriahkan dengan pentas sastra dan wisata alam ke Kandank Jurank Doank di Tangsel. “Kongres KSI ini akan diikuti 75 peserta, yang berasal dari pengurus KSI di tingkat pusat serta perwakilan pengurus KSI cabang dari seluruh Indonesia dan luar negeri. Sedangkan, di luar kongres, sejumlah acara pendukung akan dihadiri tamu undangan, masyarakat, dan kalangan pers,” ujar Shobir. Kiprah KSI Dalam pertumbuhan dan perkembangan sastra di Indonesia, peran komunitas sastra sangat penting. Komunitas sastra tidak hanya menjadi wadah pembinaan calon penulis dan pengembangan apresiasi sastra masyarakat, tetapi juga ikut memberikan arah perkembangan corak estetik dan tematik kesastraan Indonesia. Bahkan, secara ideologis, komunitas-komunitas sastra ikut juga memengaruhi orientasi penciptaan para sastrawan Indonesia. Sejak ditubuhkan pada 1996, Komunitas Sastra Indonesia KSI terus berupaya melaksanakan peran-peran tersebut. Bersama komunitas sastra yang lain, KSI terus berupaya mendorong pertumbuhan dan perkembangan sastra Indonesia ke arah yang lebih sehat dan kondusif untuk ikut melahirkan para penulis baru dan karya-karya yang bermanfaat bagi masyarakat dalam perkembangan sastra Indonesia. KSI merupakan organisasi pertama di Indonesia—sekurangnya di bidang kesusastraan atau bahkan di bidang kesenian—yang menggunakan kata komunitas atau frase komunitas sastra sebagai bagian dari nama organisasinya. Dua puluh tahun lalu, belum ada organisasi di bidang kesusastraan atau bahkan di bidang kesenian di Indonesia yang menggunakan kata atau frase tersebut. Kata komunitas sendiri masih sangat jarang digunakan dalam wacana lisan atau wacana tulisan pada saat itu. Pada 2016 ini, KSI akan memasuki usia 20 tahun, suatu tahapan usia yang mulai matang. Tak banyak komunitas sastra di negeri ini yang mampu bertahan selama rentang waktu tersebut. Selama itu, KSI telah berkembang menjadi komunitas sastra yang bukan hanya berkiprah di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi Jabodetabek, melainkan juga meluas ke hampir banyak wilayah di Tanah Air dan bahkan luar negeri. Cabang atau koordinat KSI kini berdiri di banyak kabupaten/kota dan provinsi di Indonesia dan beberapa kota di luar negeri. Berbagai kegiatan telah dilakukan KSI, baik di tingkat pusat maupun di tingkat cabang atau koordinat. Mulai dari diskusi, bengkel penulisan, seminar, penelitian, penerbitan buku, sayembara penulisan, pementasan, pemberian penghargaan, hingga kegiatan kepedulian sosial, baik dalam skala terbatas maupun skala yang lebih luas, termasuk skala internasional, seperti menyelenggarakan Jakarta International Literary Festival JIL-Fest. Berbagai kegiatan tersebut diselenggarakan secara swadaya oleh para anggota dan pengurus KSI sendiri atau bekerja sama dengan banyak pihak. Selama ini, KSI telah bekerja sama dengan lembaga atau instansi pemerintah pusat atau daerah, badan usaha milik pemerintah pusat atau daerah, badan usaha swasta nasional, lembaga swadaya masyarakat, komunitas budaya, komunitas seni, dan komunitas sastra lain, baik di Indonesia maupun di luar Indonesia, seperti Gabungan Penulis Nasional Gapena, Malaysia. Dewan Pendiri & Peserta Kongres Dewan Pendiri KSI Ahmadun Yosi Herfanda Ayid Suyitno PS Azwina Aziz Miraza Almarhumah Diah Hadaning Hasan Bisri BFC Iwan Gunadi Medy Loekito Shobir Poer Slamet Rahardjo Rais Wig SM Wowok Hesti Probowo Peserta Kongres 1. Abdul Karim 2. Ahmadun Yosi Herfanda 3. Ali Syamsudin Arsi 4. Amdai Yanti Siregar 5. Amien Wangsitalaja 6. Aria Patrajaya 7. Aris Kurniawan 8. Arsyad Indradi 9. Ayid Suyitno PS 10. Ayu Cipta 11. Bambang Joko Susilo 12. Bambang Widiatmoko 13. Budi Setyawan 14. Dharmadi 15. Diah Hadaning 16. Dianing Widya Yudhistira 17. Dimas Arika Mihardja 18. Dinullah Rayes 19. Eka Budianta’ 20. Eko Suryadi WS 21. Endang Supriadi 22. Endo Senggono 23. Erwan Juhara 24. Esthi Winarni 25. Evi Idawati 26. Fakhrunnas MA Jabbar 27. Fatin Hamama 28. Gito Waluyo 29. Habiburrahman El Shirazy 30. Hamdy Salad 31. Hasan Bisri BFC 32. Hudan Nur 33. Humam S. Chudori 34. Husnul Khuluqi 35. I Wayan Arthawa 36. Idris Pasaribu 37. Iman Sembada 38. Iwan Gunadi 39. Jamal T. Suryanata 40. Jumari HS 41. Khoirul Anwar 42. Kurnia Effendi 43. Lukman Asya 44. M. Abbullah 45. Mahrus Prihany 46. Mahdiduri 47. Medy Loekito 48. Micky Hidayat 49. Muhary Wahyu Nurba 50. Mustafa Ismail 51. Mustafa W. Hasyim 52. Nana Eres 53. Nanang Ribut Supriyatin 54. Nanang Suryadi 55. Nirwondo El-Naan 56. Omni S. Koesnadi 57. Peny S. 58. Pudwianto Arisanto 59. Rita Jassin 60. Roel Sanre 61. Sandi Firly 62. Santhinet 63. Shobir Poer 64. Slamet Rahardjo Rais 65. Suyanto 66. Teteng Jumara 67. Thomas Budi Santoso 68. Toto St. Radik 69. Viddy Alymahfoedh Daery 70. Widodo Arumdono 71. Wig SM 72. Wilson Tjandinegara 73. Wowok Hesti Probowo 74. Yudhi Ms. 75. Zakier El Makmur
Komunitas Sastra Indonesia disingkat KSI adalah organisasi kesenian nirlaba di Indonesia yang bergerak di bidang kesenian, utamanya sastra. Komunitas ini didirikan pada tahun 1996, dengan tujuan ikut menumbuhkembangkan gairah bersastra melalui berbagai kegiatan pendukung. Komunitas Sastra Indonesia didirikan oleh beberapa sastrawan Indonesia, antara lain Ahmadun Yosi Herfanda, Ayid Suyitno PS, Azwina Aziz Miraza almarhumah, Diah Hadaning, Hasan Bisri BFC, Iwan Gunadi, Medy Loekito, Shobir Poer, Slamet Rahardjo Rais, Wig SM, dan Wowok Hesti Prabowo.[1]
komunitas sastra di jakarta